Halaman

Kamis, 04 September 2014

Dokumentasi Penutupan Acara "Lapindo We Care" Sosmas BEM ITS

Berikut ini saya bagikan foto-foto dokumentasi yang berhasil saya abadikan dengan menggunakan HP Android produk perusahaan lokal yang barangnya dirakit di Cina dengan menggunakan teknologi Jerman. Mohon maaf apabila fotonya kurang jelas, saya membeli HP ini ketika awal-awal HP Android mulai booming di Indonesia.

Pemandangan Gunung Penanggungan Dari Atas Tanggul Penahan Lumpur

Gunung Penanggungan menjadi saksi bisu dari tragedi Lumpur Lapindo yang telah berlangsung selama 8 tahun ini. Ia menjadi saksi bisu yang menyaksikan secara langsung segala peristiwa dan upaya keterkaitan manusia dalam tragedi ini. Sejak 29 Mei 2006 hingga sekarang, ia tetap berdiri kokoh menyaksikan segala peristiwa di sekitar TKP Lumpur Lapindo. Hingga Allah SWT mengizinkannya untuk berubah menjadi debu dan beterbangan pada suatu hari nanti.

Foto Siluet Saya dan Teman Saya Di Atas Tanggul Penahan Lumpur
                     
 Jika anda memperhatikan foto ini, di sebelah kiri saya ada 2 buah kayu yang berdiri tegak. Kayu tersebut sebenarnya adalah papan pengukur yang menunjukkan kedalaman tanggul mencapai 10 meter. Dan jika anda memperhatikannya juga, tanggul di belakang saya itu lebih terlihat seperti danau yang di penuhi dengan air. Tetapi di bawah air tersebut sebenarnya isinya adalah lumpur semua, entah berapa meter kedalaman air tersebut sampai menyentuh dasar lumpur. Mungkin air tersebut adalah air hujan yang tertampung karena tekstur lumpur yang sudah mulai mengering dan mengeras. Atau bisa juga akumulasi air tanah yang ikut keluar bersama lumpur.

Foto Acara Syukuran Warga Bersama Tumpeng

 Warga yang hadir pada acara ini kebanyakan adalah ibu-ibu beserta anaknya. Kaum Adamnya hanya dari teman-teman relawan Rumah Alfaz dan teman-teman ITS. Cerita dari Cak Irsyad membuat saya tersadar kenapa hanya Ibu-Ibu yang datang ke acara ini.

 Foto Anak-Anak Desa Selok Besuki Porong Yang Berusia 3 Tahun
        
Kali ini saya bersyukur karena fotonya sangat nge-blur. Alhasil mereka sulit untuk dikenali sehingga tidak akan menjadi korban penculikan trafficking atau pelampiasan hawa nafsu para pedofilia. (Ada-ada aja alasannya, hehehe) 

Foto Jarak Jauh Masjid Yang Ditelantarkan

Masjid ini sejatinya berukuran cukup besar. Jika melangkah lebih dekat ke masjid tersebut, maka akan terlihat beberapa reruntuhan rumah dan pekuburan di balik masjid itu.

Ya itulah beberapa foto yang berhasil saya abadikan selama berada di Desa Selok Besuki, Porong, Sidoarjo. Sebenarnya masih ada beberapa foto lainnya sih, hanya saja foto-foto tersebut temanya monoton / sama saja dengan foto-foto diatas. Sehingga jadinya akan kurang informatif dan sia-sia saja apabila di pajang juga. 
                  
Untuk yang ke-3 kalinya semenjak blog ini dibuka kembali, saya mengucapkan banyak terimakasih atas waktu dan perhatian yang telah pembaca luangkan. Tunggu posting-posting selanjutnya dari saya dan tetaplah membaca untuk ilmu yang menampik kebodohan. 

            Semoga dapat bermanfaat dan Salam Perubahan...!!

      
Udah baca cerita sebelumnya gak? Kalau belum baca sih gak bakalan ngerti.
Yuk baca cerita sebelumnya di sini : http://imankautsar.blogspot.com/2014/09/cak-irsyad-lumpur-lapindo-dan-anak-anak.html
             

Rabu, 03 September 2014

Cak Irsyad, Lumpur Lapindo, dan Anak-anak Porong

Sabtu sore tanggal 14 september 2013 aku dan kawan-kawanku berangkat menuju  sebuah desa di Porong, Sidoarjo. Sebuah desa yang lokasinya bersebelahan langsung dengan tanggul penahan lumpur panas lapindo. Kami berangkat dari kampus ITS Surabaya dengan menggunakan sepeda motor pada jam 14.00 WIB dan sampai di desa tersebut tepat pada saat adzan magrib berkumandang.  3 jam perjalanan Surabaya-Sidoarjo memang waktu yang tidak normal  untuk dijalani, tapi hal ini dapat di maklumi mengingat waktu  yang kami tempuh adalah waktu pulang kerja dan pulang kampung bagi setiap perantau di Surabaya. Kemacetan bertubi-tubi kami alami di sepanjang jalan Surabaya-Sidoarjo. Ribuan kendaraan saling berjubel di sana sini. Dan pada akhirnya kami sangat bersyukur dapat sampai di desa tersebut sebelum waktu acara di mulai.

Sebuah desa yang telah ditinggalkan banyak warganya dan hanya segelintir orang yang masih tinggal di dalamnya. Desa yang dapat di capai melalui jalan alternatif malang, jalur lingkar timur ini bernama Desa Selok Besuki. Desa ini hanya berjarak sekitar 200 meter dari sebelah utara tanggul penahan lumpur panas. Sesampainya di desa tersebut, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi tanggul itu dengan berjalan kaki dan hanya kami tempuh sekitar 7 menitan. Kami naik keatas tanggul dan melihat luasnya wilayah yang di tenggelamkan oleh lumpur ini. Luasnya sungguh sangat menakjubkan, dalam hati saya berkata, “Negara kita telah kehilangan 1 dari 17.000 pulaunya”. Kami bahkan tidak dapat melihat dimana ujungnya. Di sana saya melihat papan pengukur ketinggian yang tertulis sudah mencapai kedalaman 10 meter. Subhanallah, Maha Suci Allah yang menciptakan segala sesuatu dan mengambil kembali segala sesuatuNya. Atas izin-Nyalah manusia dapat membuat kerusakan sampai separah ini. Inilah salah satu bentuk kedzaliman manusia atas alam yang seharusnya dilindunginya. Dan dengan kuasanya Allah menurunkan murkanya dengan didatangkannya bencana sebagai pengingat dan penegur untuk umat manusia.

Kembali lagi ke Desa Selok Besuki. Tujuan kami ke desa ini sebenarnya adalah untuk menghadiri acara penutupan program social development kementrian sosmas BEM ITS Surabaya. Sebuah program sosial masyarakat yang berjudul “Lapindo We Care”. Di dalam program ini anak-anak dari kementrian sosmas BEM ITS mengajarkan tentang Urban Farming dan pembuatan sabun mandi  berfungsi ekonomi untuk warga yang telah kehilangan lapangan pekerjaannya. Sasaran utamanya adalah ibu-ibu rumah tangga dan anak-anaknya. Disini kami bekerja sama dengan “Rumah Alfaz”, sebuah sanggar pendidikan milik salah seorang warga bernama “Cak Irsyad”. Cak Irsyad merubah rumahnya sendiri menjadi sebuah sanggar masyarakat yang di dalamnya berisi banyak buku bacaan dan beberapa alat kesenian terutama alat musik dan alat lukis. Ia menjadikan rumahnya menjadi milik umum yang bebas di masuki oleh siapa saja di desa tersebut. Rumah Alfaz sendiri berfungsi untuk memberdayakan masyrakat sekitar dan mendidik anak-anak korban lumpur lapindo di desa tersebut yang mengalami trauma pasca terjadinya bencana. Ia bersama keluarga dan teman-temannya merehabilitasi dan mengajari anak-anak tersebut berbagai keterampilan dan juga menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan untuk warga sekitar.

Awalnya Cak Irsyad adalah salah satu korban yang selalu aktif berdemo menuntut ganti rugi kepada pihak yang bertanggung jawab. Tapi lama-kelamaan ia mulai melihat keadaan sekitar dan sadar teriakan-teriakannya selama ini tidak di gubris oleh pihak tersebut. Ia pun melihat anak-anak di sekitarnya kebingungan dan kehilangan senyuman. Kemudian ia mulai merintis sanggar masyarakat ini dari kecil. Cak Irsyad mulai aktif mengumpulkan buku-buku dan sumbangan dari para donatur. Ia aktif bersosialisais dengan warganya dan tokoh masyarakat sekitar akan pentingnya hal ini. Awalnya ia mendapat dukungan positif dari semua kalangan. Tapi lama kelamaan ia mendapat rintangan dari tokoh masyarakat yang dekat dengan developer penanggulangan bencana. Tokoh masyarakat ini mulai mempengaruhi warganya dan Cak Irsyad pun mulai mendapat penolakan dari warganya.

Sempat beberapa kali ia mendapatkan terror dari orang tak di kenal. Rumahnya pernah di lempari batu yang menyebabkan kaca rumahnya pecah. Sebagian besar penolakan ini datang dari warga laki-laki, sementara warga perempuan kebanyakan tetap mendukung aktifitas Cak Irsyad ini karena membuat anak-anaknya tertawa bahagia kembali. Alasan penolakan ini terjadi karena mereka beranggapan bahwa “Rumah Alfaz” milik Cak Irsyad ini telah membuat beberapa warganya menolak relokasi yang telah disiapkan oleh pihak developer. Hal itu memang benar adanya, Cak Irsyad bercerita semenjak adanya Rumah Alfaz, warga sekitar jadi betah lagi tinggal di desa ini. Dari kaum lansia hingga anak-anak semuanya mendapatkan keceriaannya kembali.

Pernah suatu ketika Rumah Alfaz rutin mengadakan kegiatan senam pagi bersama dan banyak kakek-kakek maupun nenek-nenek yang mengikuti kegiatan tersebut. Cak Irsyad bercerita bahwa dulu untuk kegiatan senam pagi saja pesertanya bisa sampai ratusan orang. Dari lansia sampai anak-anak semuanya ikut senam pagi. Orang yang tua-tua itu senang bisa berkumpul dan beraktifitas dengan yang muda-muda. Mereka merasa semangat mudanya kembali lagi. Hal itu kini sudah sulit ditemukan karena banyak warganya yang telah pindah dari desanya ke tempat relokasi baru. Selain itu ada juga yang kembali ke kampung halamannya atau ikut bersama keluarga lainnya di luar kota / luar pulau.

Pada awal pembentukan sanggar ini Cak Irsyad bersama relawan lainnya sering mengajarkan anak-anak bercerita dan mengarang bebas. Dan pada suatu saat, Cak Irsyad meminta anak-anak didiknya untuk mengarang cerita tentang Lumpur Lapindo.

”Rumahku tenggelam, sekolahku tenggelam. Teman-temanku hilang, tempat bermainku hilang. Kemana teman-temanku?  Kemana tempat bermainku? Kembalikan teman-temanku, kembalikan tempat bermainku, kembalikan sekolahku.”

Itu adalah kata-kata yang banyak muncul dari karangan anak-anak didik Cak Irsyad tentang lumpur lapindo. Beliau berkata hal inilah yang membuat dirinya tetap teguh mengahadapi berbagai cobaan dalam menjalankan Rumah Alfaz.

Hati saya terenyuh dan terharu mendengar cerita Cak Irsyad tersebut. Saya langsung diam tertegun tak bisa berkata-kata untuk beberapa saat. Saya memandangi anak-anak tersebut yang saat itu sedang tertawa bercanda dengan teman-teman saya. Saya beristigfar dan berkata dalam hati,”Kurang bersyukur apa saya dengan kehidupan ini”. Masih banyak orang-orang yang lebih membutuhkan dari pada saya. Masih banyak orang-orang yang memerlukan pertolongan tangan ini. Sebagai seorang mahasiswa yang dapat mengenyam pendidikan sampai setinggi ini, saya di buat malu dan berpikir bahwa masih banyak yang belum dapat saya lakukan untuk orang lain. Saya bertekad untuk dapat bermanfaat bagi orang lain dan dapat membantu orang sebanyak-banyaknya walaupun bantuan itu sangat kecil artinya.

Khoirunnas Anfa’uhum linnas, itulah yang membuat saya sering tidak bisa menolak permintaan dari orang lain. Di dalam kehidupan saya sendiri sebenarnya juga banyak mengalami kekurangan dan menerima banyak bantuan dari orang lain. Tetapi Allah SWT selalu melindungi kami sekeluarga dalam kecukupan dan menciptakan berbagai  keberuntungan yang tentunya tidak di peroleh tanpa perjuangan.

Selain hal diatas, desa ini juga menjadi saksi dari keserakahan manusia. Cak Irsyad becerita bahwa dulu kami, warga desa sini sampai pernah harus membayar pajak kepada warga desa lainnya sesama korban bencana. Desa yang daerahnya lebih ramai dan kotor berdebu karena di lewati oleh berbagai macam kendaraan besar pengangkut material tanggul dan juga digunakan sebagai akses utama antarkota. Mereka iri dengan keadaan desa ini yang jauh dari keramaian dan tidak kotor berdebu seperti desanya. Mereka merasa harus menarik pajak dari warga desa Selok Besuki yang tidak mengalami penderitaan yang lebih parah dari mereka. Adapun pajak yang ditarik bermacam-macam modusnya. Ada pajak keramaian, pajak jalan yang rusak, pajak debu, dan lain sebagainya.

Saya hampir tidak percaya dengan cerita yang satu ini dan kemudian bertanya,“Kenapa kalian tidak menolaknya saja?” Ia pun menjawab bahwa kami tidak berdaya menghadapi mereka semua, pernah suatu ketika kami menolak membayar pajak dan kemudian jalur akses satu -satunya keluar masuk desa di blokir oleh mereka. Saya mencoba mencernanya kembali dan hal ini mungkin saja bias terjadi mengingat manusia adalah mahluk yang dipenuhi dengan hawa nafsu dan berbagai sifat buruk lainnya. Manusia dapat menjadi apa saja jika berada dalam kondisi kritis dan terancam. Keserakahan dapat meracuni jiwa manusia. Hanya orang-orang beriman sajalah yang dapat menahan sifat buruk tersebut agar tidak pernah keluar dari dalam dirinya. Saya menyebut ini sebagai kekanibalan sesama korban bencana. Mereka tidak segan untuk membuat sesama korban sengsara selama dirinya sendiri dapat aman terselamatkan. 

Ketika saya bertanya kepada Cak Irsyad, kenapa tidak cepat ikut pindah dengan warga lainnya, toh desa ini sudah sepi kondisinya. Ia menjawab bahwa lebih enak disini. Tempat baru yang di sediakan bentuknya seperti perumahan yang tidak memungkinkan untuk lahan pekarangan. Sementara disini kami bisa berkebun dan menanam sepuasnya. Selain itu ia menyayangkan apabila warganya dipindahkan karena ia tidak ingin warganya kehilangan orang-orang yang di kenalnya lagi. Perumahan tempat relokasi korban lumpur lapindo ini katanya berada di beberapa tempat. Sehingga ada beberapa warga yang direlokasi secara terpisah. Semenjak banyak warga yang pindah, banyak juga yang merasa kehilangan orang-orang yang dikenalnya dulu. Banyak tetangga yang telah dikenalnya bertahun-tahun hilang begitu saja dari kehidupannya. Anak-anak kehilangan teman-temannya. Rumah-rumah ditinggal kosong dan kemudiah diruntuhkan ataupun dibiarkan runtuh dengan sendirinya. Masjid dan kuburan yang bersebelahan hening tanpa suara, kotor dan dipenuhi semak belukar.

Hal lain yang membuat saya tertegun dengan bencana ini adalah adanya bangunan masjid dan kuburan yang terletak tepat bersebelahan. Masjid itu di biarkan tetap berdiri kokoh sendirian diantara bekas reruntuhan rumah warga yang di gusur. Masjid ini di penuhi dengan semak belukar, kotor, dan tidak terawat. Letaknya mungkin hanya sekitar 50 meteran dari tanggul penahan lumpur. Hal ini membuat kesan bahwa saya saat ini berada di sebuah kota mati. Saya berpikir, mungkin mereka (pihak pengembang) beranggapan bahwa jika masjid itu di biarkan berdiri, maka tanggul tidak akan jebol dan merambah daerah masjid dan pekuburan itu. Di lihat dari sejarahnya bencana-bencana besar di Indonesia seperti Tsunami Aceh pada tahun 2004 dan Gempa Bumi Djogjakarta di tahun 2006, bangunan rumah Allah yang suci ini memang seringkali selamat dari bencana-bencana besar dan menjadi satu-satunya bangunan yang tetap berdiri kokoh setelah di terjang bencana hebat.

Saat berada di Rumah Alfaz saya sangat senang sekali karena anak-anaknya begitu ceria. Mereka sangat antusias berinteraksi dengan kami. Ada yang berebutan memperkenalkan dirinya. Ada yang bercanda dengan kami.  Ada yang bermain dengan sesamanya. Menyanyi sambil menari dan  jingkrak-jingkrak di dalam kamar.  Anak-anak itu datang dari berbagai kalangan usia, mulai dari umur 3 tahun sampai kelas 1 SMA. Mereka tertawa dan tersenyum bersama. :D

Inilah hal yang saya harapkan untuk Anak - Anak Indonesia. Tertawa dan bermain bersama. Bukan bekerja dan meminta -minta di lampu merah. Saya ingin agar setiap Anak Indonesia dapat menikmati masa kecilnya dan memiliki kenangan yang indah bersama dengan teman-temanya, bukan dengan gadgetnya. Di butuhkan peran dan dukungan dari semua elemen untuk mewujudkan hal tersebut, terutama dari orang-orang terdekatnya. Saya harap akan lebih banyak lagi orang yang peduli dengan sekitarnya dan rela berkorban dan meluangkan waktu juga tenaganya untuk menciptakan perubahan yang lebih baik.  

Acara penutupan program “Lapindo We Care” ini di kemas seperti acara syukuran biasanya. Dilengkapi dengan tumpeng dan acara makan-makan bersama. Tidak lupa juga dengan pembagian bingkisan makanan ringan untuk anak-anak tersebut. Mungkin acara syukuran penutupan program ini juga menjadi acara syukuran penutupan Desa Selok Besuki. Cak Irsyad dan kawan-kawannya sudah siap untuk pindah ke tempat yang baru.  :’)

Sekian koleksi cerita kehidupanku ini. Atas waktu dan perhatian yang telah di berikan, saya sampaikan banyak terimakasih. Semoga bisa menginspirasi, salam perubahan.

“Ini ceritaku, mana ceritamu? J

Story by : Imaniar Nungky Kautsar
Based on true story of Cak Irsyad And The Children Of Porong

Copyright © 2014 Imaniar Nungky Kautsar

Mau liat foto-foto dokumentasi selama di Desa Selok Besuki, Porong, Sidoarjo?
Yuk mampir lagi besok ke sini : http://imankautsar.blogspot.com/2014/09/dokumentasi-penutupan-acara-lapindo-we.html

Selasa, 02 September 2014

Selamat Datang Di ImanKautsar.blogspot.com (Hidangan Pembuka)

Assalamu’alaykum Wr.Wb.

Alhamdulillahirobbil alamin. Atas rahmat, ridho, dan hidayah dari Allah SWT (baca : Subhanahu Wa Ta’alla) saya di berikan ide untuk menulis di dashboard blogger ini lagi. Imankautsar.blogspot.com adalah blog ke-2 saya. Sebelumnya, sewaktu SMA saya sudah pernah memiliki blog yang isinya mengenai materi-materi biologi. Blog tersebut kini sudah tidak saya rawat lagi dan saya biarkan mandiri, berdiri sendri bersama mesin pencarian, Pakde Google Inc.
            
            Saya mengambil nama ImanKautsar dari nama lengkap saya sendiri yaitu Imaniar Nungky Kautsar. Banyak orang yang bilang kalau nama saya seperti nama wanita. Tapi bagi saya yang sudah menyandang nama ini sejak lahir, nama itu tidak terdengar seperti nama wanita. Karena selama saya hidup 20 tahun di dunia ini, saya sendiri jarang mendengar nama yang sama dengan milik saya ini. Jadi tidak ada bukti bagi saya bahwa nama tersebut banyak di pakai oleh kaum hawa.

Ketika ada orang yang menyindir nama saya dan teman-teman menertawai hal itu. Saya tidak ikut-ikutan tertawa ataupun jengkel. Saya cukup menanggapinya dengan tersenyum. Senyum bukan karena malu, tapi senyum karena ingin membuat orang lain bahagia. Senyum adalah salah satu ibadah termudah bagi kita umat muslim. Dengan tersenyum saja kita sudah bisa mendapatkan pahala. Apalagi tersenyum sudah terbukti membuat kita sehat dan awet muda. Senyum sendiri  adalah lambang dan bukti kebahagian bagi setiap orang. Jadi marilah kita  tersenyum untuk hidup yang lebih sehat dan bahagia. J

Secara langsung “ImanKautsar” sendiri memiliki arti yang baik. Iman artinya percaya dan Kautsar diambil dari nama surat Al-Kautsar (لكوث). Surat Al-Kautsar adalah surat ke-108 dalam Al-Quran. Surat ini tergolong surat Makkiyah dan terdiri dari 3 ayat. Surat Makkiyah adalah surat-surat Allah yang diturunkan di Kota Mekkah dan berkarakteristik memiliki ayat-ayat yang pendek. Kata Al-Kautsar sendiri berarti “Nikmat Yang Banyak” dan diambil dari ayat pertama surat ini yang artinya Karunia Allah SWT berupa “Telaga Al Kautsar Bagi Orang-Orang Penghuni Surga”. Pokok isi surat ini adalah “Perintah untuk melaksanakan Solat dan Berkorban karena Allah memberikan banyak kenikmatan untuk mereka yang Beriman”

Jadi jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, Iman Kautsar memiliki arti “Percaya Akan Nikmat Yang Banyak” atau “Percaya Kepada Karunia Allah SWT”. Dan diantara ke-2 arti tersebut saya lebih suka jika pembaca memilih arti yang ke-2 yaitu“Percaya Kepada Karunia Allah SWT” yang mengajak untuk mendirikan solat juga berkorban untuk kebermanfaatan.

Orang bilang nama adalah doa dan anugerah yang diberikan kepada kita dari orang tua. Sempat beberapa kali saya mencari arti nama saya sendiri, Imaniar Nungky Kautsar. Tapi yang saya temui hanya arti Kautsarnya saja. Akhirnya saya menjabarkan nama depan saya sendiri, Imaniar yang berasal dari kata “Iman” dan “Syiar”. Pada akhirnya saya mengartikan Imaniar sebagai “Penyiar Iman”. Dan sampai saat ini saya tidak bisa menemukan ataupun menjabarkan nama panggilan saya sejak kecil yaitu Nungky. Saya bahkan penasaran Nungky itu berasal dari bahasa apa. Saya membuka kesempatan bagi para pembaca yang budiman untuk mengartikan ataupun menjabarkan nama panggilan saya tersebut. Tentunya saya akan sangat senang sekali jika pembaca menyertakan referensi yang jelas tentang arti nama saya itu.

Untuk saat ini “Imaniar Nungky Kautsar” saya artikan sebagai “Nungky Sang Penyiar Iman Yang Di Karuniai Oleh Allah SWT”. Saya akan selalu menjadi hamba yang beriman kepada Allah SWT dan bersyukur atas Karunia yang diberikan oleh Allah SWT.

Berbicara tentang SWT (Subhanahu Wa Ta’ala), pasti beberapa pembaca ada yang tidak mengerti apa arti dari kalimat tersebut. SWT (Subhanahu Wa Ta’ala) artinya adalah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. SWT (Subhanahu Wa Ta’ala) berasal dari dua sifat Allah yaitu Subhanahu (Yang Maha Suci) wa (dan) Ta’ala (Yang Maha Tinggi / Maha Mulia). Allah sendiri berarti Tuhan dalam bahasa Arab. Jadi “Allah Subhanahu Wa Ta’ala” berarti “Tuhan Yang Maha Suci dan Maha Tinggi”. Nama yang sangat bagus kan. :D 

Tidak terasa tulisan diatas sudah mencapai 623 kata. Saya rasa sudah cukup banyak untuk menyambut para pembaca. Sekian sambutan selamat datang dan hidangan pembuka dari saya. Saya harap pembaca dapat menyukainya. Untuk selanjutnya saya harap blog ini dapat bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya, sesuai dengan arti dari nama blog ini. Amin Ya Robbal Alamin.

Atas waktu dan perhatiannya, saya sampaikan banyak terimakasih. 

Mari Menginspirasi dan Salam Perubahan...!!


Wassalamu’alaykum Wr.Wb, 

Mari mampir lagi besok dan baca kisah pertama dari saya di sini : http://imankautsar.blogspot.com/2014/09/cak-irsyad-lumpur-lapindo-dan-anak-anak.html

ENTRI POPULER