HALAMAN

Minggu, 10 November 2013

Cak Irsyad , Rumah Alfaz, dan Anak- Anak Porong

Halo kawanku, terimakasih sudah mau mengunjungi blogku ini. Pos yang akan kamu baca di bawah ini adalah salah satu kisah hidup yang berhasil ku koleksi. Kisah rakyat Porong yang menjadi korban tragedi lumpur Lapindo. Kalian pasti sudah mengenal tragedi ini kan. Tragedi yang sudah 7 tahun menimpa tanah air kita tanpa henti. Saya tidak tau apakah kamu akan membacanya sampai habis. Tapi saya harap kamu akan membacanya sampai habis. Karena yang saya tulis adalah sebuah fakta kenyataan kisah hidup seseorang. Saya berharap akan menjadi hal yang menarik buat kamu yang sudah rela mengorbankan waktunya untuk membaca pos ini. Semoga dari pos ini kita bisa mendapatkan pelajaran dan manfaatnya. Amin. Selamat membaca kawan. : D
Sabtu sore tanggal 14 September 2013, aku dan kawanku berangkat dari Kampus  ITS menuju porong dengan mengendarai sepeda motor. Kami ke Porong dengan tujuan menghadiri acara penutupan Social Development Departemen Sosial Masyarakat BEM ITS. Sore itu lalu lintasnya sungguh  sangat padat. Hal ini mungkin disebabkan oleh jam pulang kerja dan juga merupakan waktu terbaik pulang kampung bagi yang merantau di Surabaya.

Akhirnya setelah menyalip ratusan kendaraan dan melewati puluhan lampu lalu lintas, kami pun sampai di tempat tujuan tepat waktu adzan magrib berkumandang. Desa Selok Besuki namanya. Terletak di daerah Porong,  Sidoarjo. Hanya beberapa kilometer jauhnya dari wilayah yang terkena semburan lumpur panas Lapindo. Kurang lebih hanya  5 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor, kita sudah bisa mencapai tanggul yang berisikan lumpur panas yang terletak di sebelah utara desa ini. Dan jika dengan berjalan kaki, kurang lebih hanya dengan 10 menit kita sudah bisa mencapai sebuah tanggul yang berisikan air di sebelah barat desa ini. Pada papan meterannya tertulis 10 meter pada batas terakhir yang masih terlihat diatas air.

Desa ini memang tertutup dari keramaian kota Sidoarjo. Jalanan desa ini kecil, hanya muat di lewati oleh 2 buah mobil pribadi, tapi kebanyakan hanya sepeda motor yang lewat jalan desa ini. Jalanan desa ini juga di pakai sebagai jalan alternatif ke kota Malang. Di kanan kirinya masih bisa ditemukan ladang semangka dan sawah. Mungkin bagi kalian yang pernah memakai jalan alternatif ini, sudah memiliki bayangan bagaimana keadaan dan dimana lokasi desa ini berada.

Jika kalian sering naik bis dari arah Jember menuju kota Surabaya, kalian pasti pernah melihat pemandangan sebuah masjid dan kuburan di sebelahnya yang di telantarakan. Pemandangan ini dapat kalian lihat ketika mulai memasuki daerah tol di dekat Porong. Desa ini sangat dekat dengan masjid tersebut berdiri.Tepatnya kurang lebih 2 Km di sebelah timur laut-nya.

                Di desa ini ada sebuah paguyuban yang memberdayakan warganya terutama anak – anak agar bisa bertahan dalam keadaan sosial yang kacau. “Rumah Alfaz” namanya. Rumah ini sejatinya adalah rumah seorang warga . “Cak Irsyad” adalah nama warga yang memiliki rumah tersebut. Cak Irsyad bersama dengan keluarganya konsisten membangun rumahnya ini untuk menjadi tempat berkumpul dan pemberdayaaan warga di sekitarnya.

Dengan keberadaan rumah ini, masyarakat di sana terutama anak – anak bisa mendapatkan sedikit keceriaannya  lagi. Di dalam rumah ini terdapat banyak sekali buku pengetahuan yang sungguh sangat menarik sekali untuk di baca. Bahkan salah satu anggota Sosmas BEM ITS, Mbak Fitri Mahasiswa Teknik Kimia 2011 mengatakan “Andai saja saya tinggal disini saya akan sangat senang sekali karena bisa membaca semua buku disini”.Buku yang ada disana kebanyakan adalah novel,  buku cerita, buku motivasi ,biografi,  pengetahuan umum, dan lain sebagainya. Tidak sedikit pula yang merupakan karya cipta dari penulis dan lembaga – lembaga terkemuka. Selain buku,  di sini juga terdapat beberapa alat musik dan kesenian lainnya untuk mengembangkan kemampuan anak – anak tersebut.

Sebelum Cak Irsyad meresmikan Rumah Alfaz ini, ia menjadi salah satui korban yang selalu protes dengan ketidak adilan yang terjadi perihal ganti rugi dan lain sebagainya. Tapi ia pun menyadari bahwa yang ia lakukan terbilang sia - sia dan menghabiskan waktu juga tenaga. Ia mulai melihat ke depan dan melihat keadaan di sekitarnya. Ia menyadari ada hal yang lebih berguna yang dapat ia lakukan. Ia melihat anak – anak kehilangan keceriaannya, kehilangan temannya, tempat bermain,dsb. Maka sejak saat itu ia mulai mengumpulkan anak – anak di sekitarnya, mengajak mereka bermain bersama, dan juga mendidik mereka.

Salah satu hal yang pertama kali di lakukan oleh Cak Irsyad adalah mengajarkan mereka bercerita dan mengarang bebas. Setelah mereka mulai mahir, Cak Irsyad pun meminta mereka untuk membuat karangan mengenai  Lumpur Lapindo. Dan isinya kebanyakan adalah mereka meminta sebagai berikut : 

“Kembalikan teman – temanku, kembalikan tempat bermainku, kembalikan sekolahku, rumahku tenggelam, sekolahku tenggelam.”

 Cak Irsyad yang membacanya pun langsung terharu . Memang setelah tragedi lumpur itu, banyak warga yang berpindah dari tempat tinggalya. Mereka berpencar ke tempat yang berbeda – beda. Hal ini menjadikan banyak warga  kehilangan orang yang pernah di kenalnya dahulu. Dampak psikologis yang diterima oleh anak – anak ini sangat besar sekali. Anak – anak adalah sosok yang sangat rentan dan mudah menerima dampak dari suatu peristiwa.
Sejak adanya Rumah Alfaz ini banyak anak – anak yang mulai mendapatkan keceriaannya , teman – temannya, dan tempat bermainnya lagi. Setiap hari dulunya rumah Alfaz ini ramai sekali. Setiap pulang sekolah anak – anak selalu datang ke rumah ini. Bahkan sering ada yang menginap. Cak Irsyad menjadikan rumahnya milik umum. Ia membebaskan siapa saja di kampung itu untuk keluar masuk rumahnya. Rumahnya bahkan tidak pernah di kunci sejak Rumah Alfaz di resmikan.

Tentu saja dalam mengelola Rumah Alfaz ini Cak Irsyad mendapatkan rintangan juga. Salah satunya adalah dari warga dan tokoh masyarakatnya sendiri. Warga yang ada disana terutama bapak – bapak tidak terlalu menyukai adanya Rumah Alfaz. Tokoh Masyarakat juga menjadi halangan terbesar bagi Cak Irsyad. Mereka yang menentang hal  tersebut adalah orang – orang yang dekat dengan pengembang lumpur lapindo.

Dengan adanya Rumah Alfaz ini tentunya akan membuat para pengembang kesulitan untuk memindahkan penduduk dari sana, karena mereka betah bisa mendapatkan kembali kebutuhan sosialnya  lagi. Para pengembang pun mendekati para tokoh masyarakat dan tokoh masayarakat mendekati para warga terutama bapak – bapak. Beberapa kali Cak Irsyad pernah mendapatkan teror. Suatu ketika, saat di rumahnya hanya ada 2 orang yaitu Cak Irsyad dan anaknya, di malam hari kurang lebih jam 1 pagi, jendela rumahnya di lempari batu sampai pecah oleh orang yang tak dikenal dan tak bertanggung jawab.  

Lain lagi halnya dengan Ibu – Ibu. Mereka sangat mendukung kegiatan Cak Irsyad ini karena memberikan dampak yang postif bagi mereka terutama anak – anaknya. Hal ini menjawab pertanyaan saya kenapa yang datang saat acara penutupan pada malam itu kebanyakan bahkan hampir semuanya adalah ibu – ibu dan anak - anaknya.

Selain kegiatan untuk anak – anak., Cak Irsyad juga sering mengadakan kegiatan pemberdayaan untuk warga disana seperti pelatihan kewirausahaan dan senam pagi bersama. Para lansia yang pernah tinggal disana sering mengikuti acara senam paginya. Cak Irsyad menyebutkan kalau dulu untuk senam pagi saja yang ikut bisa sampai ratusan orang. Mereka yang tua – tua sangat senang bisa berkumpul dan beraktifitas dengan yang muda – muda lagi.

 Memang pada saat saya disana kampung Selok Besuki sudah sepi penduduknya. Kebanyakan dari mereka sudah di pindahkan ke tempat yang baru dengan tempat tinggal model perumahan yang desainnya tidak memungkinkan untuk pekarangan rumah ataupun  pepohonan. Sementara di rumah mereka yang dulu di Desa Selok Besuki ini mereka masih bisa mendapatkan sebuah halaman depan dan belakang,bahkan ada juga yang bisa mendapatkan di samping rumahnya. Selain hal tersebut, Cak Irsyad menyayangkan bila warganya di pindahkan karena tidak ingin mereka kehilangan orang yang dikenalnya lagi. Terutama hal yang paling dipikirkan adalah anak – anak didiknya.

Di depan rumah Cak Irsyad juga terdapat sebuah ladang kecil beratapkan jaring. Isinya sayur mayur,mungkin ini adalah salah satu pembelajaran bagi warga disana bahwa berkebun bisa dimana saja termasuk di rumah sendiri. BEM ITS juga pernah melakukan pelatihan pembuatan sabun di kampung ini. 

Selama disana saya bisa melihat banyak hal, pertama saya bisa melihat secara langsung betapa luasnya dampak dari tragedi ini. Luas dari sebuah tanggul airnya saja sudah bisa di kategorikaan sebagai danau berukuran medium. Itupun baru 1 buah tanggul, belum tanggul – tanggul yang lainnya. Dan luas dari genangan lumpurnya saja bisa saya katakan bahwa kita telah kehilangan 1 dari 17.000 pulau di Indonesia.

Saat berada di sana saya sangat antusias sekali karena anak – anaknya begitu ceria. Mereka antusias berinteraksi dengan kami. Ada yang berebutan memperkenalkan dirinya dan teman –temannya. Ada yang bercanda dengan kami.  Ada yang bermain antar sesamanya . Menyanyi sambil menari dan  jingkrak – jingkrak di dalam sebuah kamar.  Anak – anaknya datang dari berbagai kalangan usia mulai dari umur 3 tahun sampai SMA kelas 1. Mereka tertawa dan tersenyum bersama. :D
Ini memang kedua kalinya saya kesana, tapi bertemu dengan mereka adalah pertama kalinya. Inilah hal yang saya harapkan untuk Anak - Anak Indonesia. Tertawa dan bermain bersama. Bukan bekerja dan meminta – minta di lampu merah. Saya ingin agar setiap Anak Indonesia dapat menikmati masa kecilnya dan memiliki kenangan yang indah bersama dengan teman – temanya. Bukan dengan gadgetnya. Di butuhkan peran setiap orang untuk mewujudkannya terutama orang – orang terdekatnya.



“ Berpikirlah yang  kritis dan dinamis jangan hanya berpikir yang praktis – praktis saja.”
                

Selasa, 22 Oktober 2013

Membaca dan Menulis : Aspek Penting Perubahan

                
                 Menulis dan membaca merupakan keahlian yang telah kita pelajari sejak kecil. Kemampuan ini merupakan salah satu kemampuan dasar untuk dapat membuka jendela ilmu yang begitu luas dan terus berkembang. Sejak kecil kita telah diperkenalkan dengan angka dan huruf. Tahap ini adalah tahap awal kita agar dapat membaca dan menulis. Seiring dengan waktu yang berjalan, akhirnya kita dapat menghafal dan menulis semua huruf dan angka tersebut dengan sempurna.


                Ya dengan bantuan orang – orang terdekat kita yaitu keluarga kita sendiri terutama orang tua, akhirnya kita dapat menulis dan membaca dengan mahir.Tapi ada sebagian orang yang lebih baik dalam hal membaca dan menulis. Mereka adalah orang – orang yang memahami dan juga mempraktikkan secara langsung seni membaca dan menulis. Sebagian orang dapat menulis dengan sangat indahnya. Mereka dapat merangkai kata – kata dengan baik dan menjadikannya sebuah bacaan yang enak dibaca.

Sebagian orang juga dapat membaca dengan sangat cepat.  Dengan menggunakan teknik membaca efektif mereka dapat langsung menemukan inti dan maksud dari sebuah bacaan. Kedua hal ini adalah sesuatu yang harus dilatih terlebih dahulu. Dengan latihan yang diulang – ulang dan selalu dibiasakan, pada akhirnya kita akan mendapatinya sebagai sebuah bakat dalam diri kita.

Menulis dan membaca juga dijadikan sebuah hobi oleh sebagian orang. Dengan membaca terkadang kita dapat menghilangkan rasa kesendirian kita. Asyik berimajinasi dengan apa yang kita baca. Membiarkan diri kita tenggelam di dalamnya. Membaca juga dapat meningkatkan kepercayaan diri, karena dengan membaca kita bisa mendapatkan pengalaman baru dan juga menambah ilmu.

Membaca dan menulis adalah 2 hal yang saling berkaitan dan sulit untuk dipisahkan. Dengan menulis kita dapat menyatakan pendapat kita, mempengaruhi orang lain, membagi ilmu kita, dan lain sebagainya. Dua hal ini adalah hal yang sangat di perlukan dan penting dalam hidup kita. Bagi kamu yang ingin menyatakan pendapat tapi malu berbicara di depan umum, maka tulislah pendapatmu dalam beberapa kalimat dan sebarkan kepada yang lainnya.


Jika kamu ingin menambah ilmu dan berwawasan luas, maka rajin – rajinlah membaca dan jika bisa praktikkanlah apa yang kamu baca itu. Membaca dan menulis adalah aspek penting untuk menuju perubahan. Itulah kenapa banyak orang yang ingin mengajari baca dan tulis kepada orang yang masih belum bisa membaca dan menulis.

"Sebarkan ilmu yang kau punya kepada yang lainnya"

ENTRI POPULER